MERANTI, JURNAL SUMATERA
Sagu adalah jati diri Selatpanjang, menjaga industri sagu bearti menjaga nadi perekonomian dan kearifan lokal masyarakat Meranti itu sendiri,
Ketika kita menyebut Kota Selatpanjang, maka secara historis, sosiologis, dan antropologis akan melekat identitas sebagai Kota Sagu. Ini bukan istilah yang baru muncul. Sejak berabad-abad lalu, dari zaman nenek moyang kita, lahan-lahan gambut di Meranti dibuka untuk bercocok tanam pohon rumbia atau sagu.
Tanaman ini memiliki nilai plus dan nilai strategis. Pertama, sagu diolah menjadi makanan pokok ketika itu, yang kita kenal dengan _sagu rendang_ dan diolah menjadi kue mue untuk sarapan pagi. Kedua, _tual sagu_ memiliki nilai ekonomi yang tinggi untuk dijual. Tidak heran jika sampai saat ini, mayoritas masyarakat Meranti masih mempertahankan kebun sagu sebagai aset ekonomi keluarga dan banyaknya kilang sagu yang tumbuh di berbagai pelosok desa.
*Repu: Limbah Sagu yang Bernilai Ekonomis dan Telah Dimanfaatkan Berabad-abad*
Sementara itu, apa yang disebut sebagai limbah sagu, oleh masyarakat asli Selatpanjang disebut dengan istilah _repu_. Sejak dahulu, repu ini bukanlah limbah yang terbuang sia-sia dan membahayakan.
Masyarakat, khususnya masyarakat Tionghoa, telah lama memanfaatkannya sebagai pakan ternak yang bernilai ekonomis tinggi, seperti pakan babi dan itik. Artinya, secara turun-temurun, konsep ekonomi sirkular sudah berjalan. Limbah sagu sudah ada sejak berabad-abad lalu dan dapat dimanfaatkan kembali.
Kalaupun ada sebagian kecil repu yang terbuang ke sungai atau ke laut, secara kajian ekologis tradisional, itu tidaklah membahayakan ekosistem. Bahkan dalam jumlah tertentu dapat menjadi bagian dari rantai makanan biota air. Intinya, limbah sagu dapat diolah dan memiliki manfaat.
*Ribuan Jiwa Menggantungkan Hidup di Industri Sagu*
Kita tidak boleh menutup mata, bahwa hingga hari ini masyarakat Meranti masih sangat banyak yang menggantungkan hidupnya pada sektor sagu. Mulai dari penebang pohon sagu di hutan, perakit tual sagu yang ditarik menggunakan sarana transportasi laut seperti kapal pompong, mereka semua bekerja pada pemilik kebun sagu.
Belum lagi ribuan orang yang menggantungkan hidupnya bekerja sebagai buruh di kilang-kilang sagu. Pekerjaan ini mereka lakoni dengan penuh tanggung jawab untuk menghidupi keluarga, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan yang paling penting adalah untuk biaya pendidikan anak-anak mereka agar mendapatkan masa depan yang lebih baik.
Menanggapi hal tersebut, Aan, Pengurus Koperasi Harmonis saat ditemui media ini, Rabu (01/10/2026) menegaskan komitmennya terhadap kesejahteraan pekerja.
Menurutnya, para buruh yang bekerja di kilang-kilang sagu milik pengusaha yang tergabung di Koperasi Harmonis adalah perhatian utama.
"Para buruh adalah perhatian utama kami, mulai dari kesehatan, makan mereka dan lain-lain, itu adalah prioritas utama dan itu selalu kami bicarakan di setiap rapat," ujar Aan.
Bahkan seluruh buruh itu kita masukkan dalam program BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan kerja," tutupnya.****(Karim).
