Oleh : Karim Wartawan Jurnal Sumatera
Politik Pecah Belah, atau _Devide et Impera_ adalah strategi memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil agar lebih mudah ditaklukkan. Dalam konteks lain, politik ini juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil bersatu menjadi kekuatan besar.
Tujuannya satu: monopoli kekuasaan dan ekonomi demi mempertahankan kekuasaan.
Luka 3,5 Abad Penjajahan
Bangsa ini dijajah Belanda selama 350 tahun dan Jepang 3,5 tahun.
Waktu yang panjang itu bukan waktu singkat. Nenek moyang, kakek, hingga cucu dan buyut kita merasakan bagaimana hak-hak kemanusiaannya diinjak.
Sistem yang dipakai penjajah adalah sistem adu domba: hasut-menghasut, fitnah, hingga memprovokasi antar suku dan bangsa.
Kebangkitan dari Pecahan Menjadi Satu
Tahun 1908, berdirilah Budi Utomo. Ini titik awal pikiran bersih untuk menyatukan bangsa.
Dari semangat itu maka lahirlah young jaya, young sumatera, young slebes, young Melayu dan young sumatera barat dan banyak lagi young young lainnya.
Mereka awalnya bicara dengan logat dan identitas daerah masing-masing.
Anak Minang berseru: _"A juo lai, Balando cilako. Niniek mamak dihasuikkan juo"_
Anak Jawa: _"Endhasku, Londo ciloko. Ngopo kowe bengak-bengak wae"_
Anak Melayu Riau: _"Belande celake. Keje dikau cume menghasut, dengki, kianat dikau ni. Belande ni dah jahat betul. Diberi betis nak paha, diberi paha nak hati, sampai ke jantung. Ini tak boleh. Ini dah melampaui batas. Kite mesti besatu padu. Jike perlu kite besumpah, untuk menghalau Belanda dari negeri kite ini."_
20 tahun kemudian, 28 Oktober 1928, pecahan itu bersatu. Lahirlah *Sumpah Pemuda*: Bertanah air satu, tanah air Indonesia. Berbangsa satu, bangsa Indonesia. Berbahasa satu, bahasa Indonesia.
Perjuangan belum selesai, kemerdekaan belum diraih. Tapi setidaknya benih persatuan dari Sabang sampai Merauke sudah tumbuh.
Slogan-slogan terus berkumandang: _Merdeka atau Mati_. Lama kelamaan, tipu daya _Devide et Impera_ mulai terbaca oleh bangsa ini. Karena kebenaran pasti terwujud dan kemunafikan pasti terungkap.
17 tahun setelah Sumpah Pemuda, penantian panjang itu berakhir.
17 Agustus 1945,atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan.
80 Tahun Merdeka, Apakah Masih Dijajah?
Pertanyaannya sekarang: 80 tahun merdeka, mengapa fenomena pecah belah itu masih terjadi?
Apakah ini salah Belanda? Atau salah kita sendiri, karena ada mitra kerja yang tidak profesional?
Memang sekarang eranya keterbukaan. Tapi keterbukaan bukan berarti telanjang. Buka data, buka dialog, tapi jangan buka celah untuk diadu domba lagi.
Seperti kata pepatah: _"Daging yang paling buruk adalah lidah dan hati. Dan daging yang paling baik juga lidah dan hati."_
Mari jaga lidah dan hati. Jaga persatuan. Karena musuh terbesar bangsa ini bukan dari luar, tapi ketika kita lupa bahwa kita bersaudara.
