MERANTI, JURNAL SUMATAERA
Abrasi di Kabupaten Kepulauan Meranti bukan lagi cerita tahunan. Ia sudah jadi kenyataan pahit setiap hari. Daratan hilang sedikit demi sedikit. Rumah warga makin dekat ke bibir pantai. Dan laut terus maju.
Amir Hasan, tokoh masyarakat dan pemerhati lingkungan Meranti, kepada media Minggu (12/7/2026) mengatakan, Jika tidak segera ditangani secara serius, bukan hanya rumah warga yang terancam, tetapi juga keberlangsungan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Meranti."
Ini bukan sekadar soal tanah yang longsor. Ini soal masa depan sebuah kabupaten. Soal apakah anak cucu kita nanti masih punya daratan untuk berpijak.
Ironisnya, Meranti ini daerah terluar. Berbatasan langsung dengan negara tetangga. Secara geopolitik penting.
Sementara pemerintah daerah dengan keterbatasan kemampuan anggaran, tidak akan mampu, karena membangun tanggul penahan gelombang itu mahal. Ratusan miliar, imbuhnya
Lalu siapa lagi yang harus turun tangan kalau bukan pemerintah pusat?
Jangan sampai kita menunggu sampai satu pulau hilang, baru ada dana darurat dikucurkan.
Yang dibutuhkan Meranti sekarang bukan janji. Yang dibutuhkan adalah dana khusus, program khusus, dan prioritas khusus, untuk pulau-pulau terluar.
Bangun tanggul, sebelum kerusakan semakin besar dan menimbulkan kerugian yang lebih luas.
Amir menambahkan, ini butuh sinergi Daerah, Provinsi dan Pusat, Tapi yang punya kunci anggaran besar tetap di Pusat.
Meranti sudah terlalu lama "menahan" gelombang sendirian. Kini saatnya negara yang menahan gelombang itu bersama Meranti.
Jangan biarkan Meranti tergerus. Karena kalau Meranti tenggelam, itu artinya kita kehilangan sebagian dari Indonesia, Tutupnya.***(Karim)
