TpG0BSMpGfr7TSMiTfAiBUO6

Tutupnya Panglong Arang, Warga Desa Semukut Kehilangan Mata Pencaharian


Keterangan Foto : Firman Kades Semukut

MERANTI, JURNAL SUMATAERA

Penutupan panglong arang di Kabupaten Kepulauan Meranti berdampak langsung pada ribuan warga. Mereka yang selama ini menggantungkan hidup sebagai penebang kayu bakau, pengangkut, pembakar di tungku, hingga ibu rumah tangga yang memasukkan arang ke goni, kini tidak lagi memiliki pekerjaan.


Hal itu disampaikan Firman, Kepala Desa Semukut sewaktu di temui di kediamannya,  minggu 12/7/2026.


"Sebagai kepala desa saya sangat prihatin dengan kondisi warga. Sekarang mereka benar-benar hidup susah semenjak panglong arang ditutup," ujar Firman.


Menurut Firman, sebelum ditutup, mereka bekerja di panglong arang masih bisa menghidupi keluarga. Para tukang tebang, tukang langsir, dan pembakar bakau di tungku rata-rata mendapat upah Rp100.000 per hari. Sementara ibu-ibu yang bertugas memasukkan arang ke dalam goni mendapat upah Rp60.000 per hari.


"Dengan penghasilan itu mereka bisa membiayai keluarga dan menyekolahkan anak," jelasnya.


Namun kondisi sekarang berbalik 180 derajat. Warga terdampak terpaksa bekerja serabutan. Kebanyakan beralih mencari siput di pantai.  dengan penghasilan di bawah Rp50.000 per hari.


"Jangankan untuk beli susu dan biaya sekolah, untuk makan sehari-hari saja mereka terancam. Warga saya banyak yang mengeluh dan berharap panglong arang bisa dibuka kembali agar mereka bisa bekerja seperti dulu," kata Firman.


Melalui media ini, Herman berharap Bupati Kepulauan Meranti dapat mendengar keluhan warganya dan segera mencari solusi.


"Kalau memang panglong tidak bisa dibuka lagi, tolong diusahakan pekerjaan lain untuk mereka. Dan tolong juga diberikan bantuan sembako setiap bulan, agar warga kami terbantu," pungkas Firman.****(Karim)

Type above and press Enter to search.