SELATPANJANG, JURNAL SUMATERA
Kelangkaan minyak solar subsidi kembali terjadi di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Kondisi ini dikeluhkan warga, terutama petani dan nelayan yang sangat bergantung pada BBM subsidi untuk aktivitas sehari-hari.
Tokoh Masyarakat Meranti, Sanusi, menyampaikan keprihatinannya terkait kondisi tersebut, Jumat (7/8/2026).
"Yang paling di sayangkan, yang jadi korban itu nelayan dan petani. Mereka butuh solar subsidi untuk melaut dan mengairi sawah. Tapi sekarang barangnya langka. Kalau ada pun harganya sudah tidak wajar," kata Sanusi.
Menurutnya, kelangkaan solar subsidi di Selatpanjang sudah berlangsung beberapa waktu terakhir.
Sanusi menduga kelangkaan ini bukan semata karena keterbatasan kuota, melainkan ada permainan oknum.
"Ada indikasi kuat ini ajang bisnis pangkalan nakal. Mereka diduga bekerja sama dengan mafia untuk menimbun dan mempermainkan harga. Ini sudah keterlaluan," ujarnya.
Ia menilai, praktik seperti ini sangat merugikan masyarakat kecil. Padahal solar subsidi merupakan hak rakyat yang dananya bersumber dari APBN.
Karena itu, Sanusi mendesak Pemerintah Daerah dan Aparat Penegak Hukum segera turun tangan.
"Saya berharap Bupati, DPRD, dan Polres Meranti segera membentuk tim khusus untuk mengawasi penyaluran solar subsidi. Lakukan sidak ke SPBU dan pangkalan. Cabut izin bagi yang nakal," tegasnya.
"Ini soal perut rakyat. Jangan sampai menjelang musim tanam dan musim melaut, masyarakat justru tercekik karena BBM solar sulit di dapat," tutupnya.****(Karim)
