SELATPANJANG, JURNAL SUMATERA
Hasil investigasi jurnalsumatera.com di lapangan dari beberapa sumber di Kabupaten Kepulauan Meranti menemukan fakta yang sama: listrik adalah urat nadi kehidupan. Saat padam, usaha berhenti, pelayanan publik tersendat, anak kesulitan belajar, dan masyarakat menanggung kerugian ekonomi.
Karena itu, ketika PLN menyampaikan janji normalisasi, itu bukan pernyataan biasa. Di dalamnya ada harapan ribuan orang pelanggan di Kabupaten Meranti
Namun fakta di lapangan berkata lain. Memasuki pertengahan September 2026, listrik di Meranti masih kerap mati-hidup tanpa pemberitahuan yang jelas kepada masyarakat.
Semua memahami sistem kelistrikan itu kompleks. Ada pembangkit, transmisi, distribusi, dan faktor teknis lain. Apalagi untuk wilayah kepulauan seperti Meranti yang masih mengandalkan PLTD.
Tapi masyarakat tidak membeli alasan. Masyarakat membeli pelayanan. Setiap bulan pelanggan bayar tepat waktu, isi token tepat waktu. Ketika telat, denda langsung dikenakan. Lalu ketika PLN bermasalah, apakah pelanggan harus terus menerima pemadaman tanpa penjelasan yang jelas?
Ini bukan hanya soal teknis. Ini soal hajat hidup orang banyak, soal ekonomi kerakyatan. UMKM, warung, pedagang, nelayan, semua butuh listrik stabil. Jika padam berulang, biaya naik karena harus pakai genset, produktivitas turun, barang di kulkas rusak, pendapatan berkurang. Korbannya siapa lagi kalau bukan masyarakat kecil?
Masyarakat tidak menuntut yang berlebihan. Masyarakat tidak minta listrik tak pernah padam. Itu tidak realistis.
Yang masyarakat Meranti minta sederhana: pelayanan yang andal, informasi yang jujur, target perbaikan yang realistis, dan tanggung jawab pada pelanggan sesuai standar.
Jika ada pemeliharaan, umumkan secara terbuka. Jika ada gangguan, jelaskan penyebabnya dan berapa lama waktu normalisasinya. Jangan biarkan masyarakat menunggu dalam kegelapan tanpa kepastian.
Pada akhirnya, masyarakat menilai PLN bukan dari indahnya penjelasan, tapi dari satu hal yang paling nyata: apakah listrik menyala saat dibutuhkan.****(Karim).
