TpG0BSMpGfr7TSMiTfAiBUO6

Hendriko Lubis Tegaskan Pembinaan Atlet KONI Aceh Tamiang Harus Jangka Panjang, Bukan Sesaat



ACEH TAMIANG, JURNAL SUMATERA

Di tengah menghangatnya bursa pemilihan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Aceh Tamiang, Calon Ketua KONI Hendriko Lubis menyampaikan gagasan kritis tentang masa depan pembinaan olahraga di daerah.


Dalam wawancara eksklusif dengan Jurnal Sumatera, Sabtu (19/9/2026) di Karang Baru, Hendriko menegaskan bahwa yang dipertaruhkan dalam pemilihan ini bukan sekadar kursi ketua, melainkan masa depan atlet dan sistem pembinaan olahraga Aceh Tamiang.


Di balik riuhnya pembicaraan tentang pemilihan Ketua KONI, ada suara yang tidak boleh tenggelam: suara atlet yang sedang berlatih, suara pelatih yang terus membina, dan suara cabang olahraga yang menunggu arah pembinaan yang lebih pasti," ujar Hendriko membuka wawancara.


Menurutnya, pergantian ketua bukanlah garis akhir, justru menjadi titik awal pekerjaan besar untuk membangun ekosistem olahraga yang profesional.


Pembinaan Tidak Boleh Sesaat


Hendriko menilai selama ini pola pembinaan olahraga masih reaktif, baru bergerak ketika kejuaraan di depan mata. Padahal, prestasi tidak lahir secara instan.


Kita jangan hanya sibuk ketika ada kejuaraan. Atlet harus dibina jauh sebelum mereka turun bertanding. Seorang atlet tidak lahir sehari sebelum pertandingan. Ada proses panjang, ada latihan berulang, kegagalan, evaluasi, kedisiplinan, peran pelatih, hingga dukungan sarana," tegasnya.


Ia menekankan, perhatian terhadap atlet tidak boleh berhenti saat medali sudah diraih. Pembinaan harus berkelanjutan, sebelum, selama, dan setelah kompetisi. Bahkan atlet yang gagal pun tetap membutuhkan pendampingan dan evaluasi untuk bangkit.


Tawarkan 10 Arah Pembenahan KONI


Jika mendapat amanah memimpin KONI Aceh Tamiang, Hendriko menawarkan sepuluh arah pembenahan strategis:


1.  Memperkuat pembinaan atlet secara berkelanjutan.

2.  Memperluas pencarian bibit atlet muda sejak dini.

3.  Meningkatkan kemampuan pelatih dan SDM olahraga.

4.  Memperkuat komunikasi dengan seluruh cabang olahraga (cabor).

5.  Membangun tata kelola organisasi yang profesional dan transparan.

6.  Memperkuat koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan DPRK Aceh Tamiang.

7.  Membuka peluang kerja sama dengan dunia usaha dan pihak swasta.

8.  Mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas olahraga yang tersedia.

9.  Membuat program berbasis target dan indikator prestasi yang terukur.

10. Menjadikan KONI sebagai rumah bersama bagi seluruh insan olahraga.


Setiap program harus memiliki tujuan, setiap target harus dapat dievaluasi. Pembinaan tidak boleh berjalan tanpa arah," katanya.


Transparansi dan Kepercayaan Publik

Lebih lanjut, Hendriko menilai organisasi KONI juga harus mau berubah. Kunci utamanya adalah komunikasi yang sehat dan transparansi.


KONI membutuhkan komunikasi yang sehat dengan cabor, pemerintah, pelatih, atlet dan masyarakat. Publik perlu mengetahui arah program, cabor perlu mengetahui bagaimana pembinaan dirancang, atlet perlu tahu ke mana mereka akan dibawa," jelasnya.


Dengan tata kelola yang terbuka, KONI diharapkan bukan sekadar organisasi yang muncul saat ada agenda pertandingan, tetapi benar-benar menjadi rumah pembinaan olahraga daerah.


Harapan Atlet Jangan Berhenti

Menutup wawancara, Hendriko mengingatkan bahwa pemilihan hanyalah proses demokrasi organisasi, namun harapan atlet tidak boleh berhenti.


Atlet tidak hidup dari janji. Atlet membutuhkan latihan, pelatih membutuhkan dukungan, cabor membutuhkan kepastian program. Ukuran kepemimpinan KONI bukan siapa yang menduduki kursi ketua, tapi apa yang berubah setelah kepemimpinan itu berjalan," tutupnya.


Yang sedang dibicarakan bukan hanya pergantian seorang ketua. Yang sedang dipertaruhkan adalah bagaimana olahraga Aceh Tamiang menyiapkan generasi atletnya untuk hari ini, esok, dan tahun-tahun yang akan datang.****(Karim)

HOT ... Pembaca

Type above and press Enter to search.