TpG0BSMpGfr7TSMiTfAiBUO6

Tak Banyak Harta, Maksum dan Sulastri Berhasil Antar 4 Anak Meraih Gelar Sarjana

 


ROKAN HULU, JURNAL SUMATERA

Tidak semua toga lahir dari perjalanan yang mudah. Di balik senyum seorang wisudawan, terkadang tersimpan cerita panjang tentang air mata, pengorbanan, keterbatasan, dan doa orang tua yang tak pernah berhenti.

Kisah haru tersebut tergambar dalam prosesi Wisuda XXV Universitas Pasir Pengaraian (UPP) Tahun 2026 yang digelar di Convention Hall Islamic Center Rokan Hulu, Sabtu–Minggu, 26–27 September 2026.

Pada Minggu, 27 September 2026, kebahagiaan mengecewakan keluarga sederhana dari Desa Muara Jaya, Kecamatan Kepenuhan Hulu, Kabupaten Rokan Hulu.

Adalah Ijazatul Karomah, S.Ak., putri bungsu pasangan Maksum dan Sulastri, yang pada hari itu mengenakan toga dan resmi menyandang gelar sarjana.

Namun, di balik toga yang dikenakannya, terdapat kisah panjang perjuangan kedua orang tua yang mungkin tidak terlihat di atas panggung wisuda.

Maksum dan Sulastri bukanlah orang tua yang hidup bergelimang harta. Mereka menjalani kehidupan dengan sederhana. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, keduanya tetap berusaha memberikan satu hal yang dianggap paling berharga untuk masa depan anak-anak mereka, yakni pendidikan.

Hari demi hari dilalui dengan perjuangan. Ketika kemampuan ekonomi terbatas, harapan tidak ikut boleh terbatas.

Satu per satu anak mereka disekolahkan hingga akhirnya keempat anaknya berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi dan meraih gelar sarjana.

Keempat anak tersebut yakni Muhamad Chairul Umam, S.Pt., Ma'rifatul Annisah, S.Kep., Ikmal Maulana Azis, S.Pt., dan anak bungsu mereka, Ijazatul Karomah, S.Ak.

Empat anak, empat gelar sarjana. Di balik pencapaian tersebut, ada dua orang tua yang dengan penuh kesabaran dan pengorbanan terus berusaha memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.

Bagi Maksum dan Sulastri, keberhasilan anak-anak bukan semata-mata tentang seberapa banyak harta yang dapat diwariskan.

Mereka mungkin tidak mampu meninggalkan rumah mewah, kendaraan mahal, atau kekayaan berlimpah. Namun keduanya berusaha memberikan sesuatu yang diyakini tidak akan menghabiskan waktu, yakni ilmu dan pendidikan.

Dengan penuh haru, Maksum dan Sulastri mengungkapkan rasa syukur karena berhasil memberikan keempat anak mereka hingga mencapai pendidikan tinggi.

“Kami sangat bersyukur. Kami mungkin tidak bisa memberikan banyak harta benda kepada anak-anak.Tetapi kami berusaha memberikan bekal berupa ilmu. Semoga apa yang diperoleh anak-anak kami bermanfaat bagi agama, bangsa, negara dan masyarakat, serta menjadi bekal untuk kehidupan mereka di masa mendatang,” ungkap Maksum dan Sulastri.

Hari itu, ketika Ijazatul Karomah menerima gelar sarjana, kebahagiaan bukan hanya menjadi miliknya. Ada kedua orang tua yang turut merasakan haru dan bangga setelah menyaksikan perjuangan panjang mereka membuahkan hasil.

Dahulu, mungkin harapan Maksum dan Sulastri sederhana: melihat anak-anak mereka memiliki kehidupan yang lebih baik melalui pendidikan.

Kini, doa dan perjuangan tersebut seolah-olah menemukan jawabannya.

Empat anak telah menjadi sarjana.

Pencapaian itu bukan sekadar gelar di belakang nama. Lebih dari itu, empat gelar sarjana tersebut menjadi simbol perjuangan panjang seorang ayah dan ibu yang memilih pendidikan sebagai warisan terbaik bagi anak-anaknya.

Sebab, harta dapat habis dan usia akan terus menua. Namun, ilmu yang ditanamkan kepada anak akan menjadi bekal sepanjang kehidupan.

Di balik empat gelar sarjana itu, tersimpan sebuah cerita sederhana tentang orang tua yang mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi memiliki cinta dan perjuangan yang tidak pernah habis untuk masa depan anak-anaknya.

(WTR)

HOT ... Pembaca

Type above and press Enter to search.