MERANTI, JURNAL SUMATERA
Di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang serba sulit hari ini, sudah seharusnya kita lebih arif, bijaksana, dan proporsional dalam menyajikan informasi kepada publik. Jangan sampai masyarakat kembali diresahkan dengan pemberitaan yang belum tentu kebenarannya.
Realitasnya, masyarakat kita sedang dalam posisi sulit. Mencari pekerjaan susah, harga kebutuhan pokok tinggi, daya beli melemah. Ketika tidak ada pekerjaan, dampaknya langsung pada ketidakmampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga, mulai dari beras, lauk-pauk, susu anak, hingga air mineral.
Oleh karena itu, isu terkait limbah sagu tidak seharusnya dibesar-besarkan secara berlebihan.
Kita harus melihat persoalan ini secara utuh, objektif, dan berimbang. Jika kilang-kilang sagu di Kepulauan Meranti sampai harus tutup akibat framing pemberitaan yang tidak berdasar, maka timbul pertanyaan fundamental: Kemana lagi _tual sagu_ akan dijual oleh para pemilik kebun? Dan berapa ribu kepala keluarga yang akan kehilangan mata pencaharian?
Inilah yang seharusnya menjadi barometer dan pertimbangan utama dalam setiap kebijakan dan pemberitaan.
Sagu bukan sekadar komoditas, melainkan identitas kultural dan nadi perekonomian masyarakat Meranti. Menjaga industri sagu berarti menjaga kearifan lokal itu sendiri.
Secara sosiologis-ekonomi, rantai industri sagu di Meranti sangat panjang dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Mulai dari penebang pohon rumbia di hutan, perakit _tual_ yang ditarik menggunakan transportasi laut kapal pompong, buruh angkut, hingga ribuan buruh yang menggantungkan hidup di kilang-kilang sagu. Pekerjaan ini mereka lakoni dengan penuh tanggung jawab untuk menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anak mereka demi masa depan yang lebih baik.
Limbah Sagu atau Repu Justru Bernilai Ekonomis
Hasil investigasi dan wawancara jurnalsumatera.com, jum'at 2/10/2026 dengan beberapa sumber di lapangan menemukan fakta yang berbanding terbalik dengan isu yang beredar.
Limbah sagu yang oleh masyarakat Selatpanjang dikenal dengan istilah _repu_ atau ampas sagu, justru dicari oleh masyarakat untuk pakan ternak. Berdasarkan testimoni peternak, repu membuat hewan ternak seperti babi dan itik menjadi lebih sehat dan gemuk. Ini menunjukkan bahwa limbah tersebut masih memiliki nilai ekonomis sirkular.
Menurut sumber secara historis dan empiris, pengelolaan sagu di Selatpanjang telah berlangsung berabad-abad lamanya. Belum pernah ada laporan medis maupun kajian ilmiah yang menyatakan limbah sagu membahayakan kesehatan manusia. Jika di dalam batang rumbia terdapat zat berbahaya, tentu konsumsi pangan berbahan dasar sagu seperti mi sagu, sagu rendang, dan lempeng sagu yang menjadi makanan pokok masyarakat Meranti sejak dahulu tidak akan aman. Faktanya, hingga hari ini tidak pernah ada kasus keracunan akibat mengonsumsi sagu, Tutup sumber.****(Karim)
